News MediaMitraPol

Kita Patut Berbangga !! Dikuasai Setelah 70 Tahun, Inilah Aset-aset Asing yang Berhasil Direbut Kembali Jokowi



Beberapa aset asing yang sudah berhasil diambil alih Indonesia melalui Presiden Jokowi (foto:SS)


MEDIAMITRAPOL.COM - Kebanyakan sumber daya Indonesia dikuasai aset asing tapi di masa pemerintahan Jokowi berhasil kembali direbut, Sudah bukan rahasia umum lagi.


Selama Presiden Jokowi menjabat, beliau telah berhasil merebut kembali beberapa aset asing di Indonesia yang dulunya dikuasai oleh negara asing.


Tanpa berpikir panjang beberapa aset asing ini akhirnya sukses direbut kembali oleh Jokowi karena jika tidak akan mengganggu kemajuan negara Indonesia.


Oleh karena itu simak informasi berikut ini tentang beberapa aset asing pada akhirnya kembali lagi ke tangan Indonesia melalui Presiden Jokowi.


1. Freeport


Menduduki posisi pertama sebagai aset asing yang berhasil direbut kembali Jokowi untuk Indonesia adalah Freeport.


Dilansir dari cnbc indonesia.com, 4 tahun silam tepatnya di tahun 2018 Presiden Jokowi berhasil mengembalikan kekayaan negara yakni tambang Grasberg Papua dari Freeport.


Kini Freeport Indonesia sudah berhasil kembali menguasai saham mayoritas yakni sebesar 51% berkat Jokowi.


Pemerintah Indonesia berhasil mengakuisisi PT. Freeport Indonesia lewat holding BUMN pertambangan PT. Inalum Persero dengan nilai mencapai 3,85 Miliar US Dollar.


Untuk membeli 51% saham PT Freeport Indonesia, PT Inalum. menerbitkan surat utang Global mencapai 4 Miliar US Dollar menjadi nilai terbesar sepanjang sejarah Indonesia.


Dengan kesepakatan tersebut, Indonesia kini memiliki kendali atas cadangan terbukti dan terkira di lapangan PT. Freeport Indonesia yang secara kasar bernilai 2400 Triliun Rupiah.


Terdiri dari 38,6 Miliar pohon tembaga, 33,8 juta ons emas, dan 156,2 juta ons perak, sehingga patut berbangga dengan kabar tersebut.


2. Blok Rokan


Satu hal yang perlu kalian ketahui, Blok Rokan dikenal dengan blok penghasil Migas terbesar di Indonesia.


Dikutip dari cnbcindonesia.com, Blok Rokan dulunya dikuasai oleh perusahaan tambang raksasa dari Amerika Serikat bernama Chevron


Namun di tahun 2018 lalu, Blok Rokan akhirnya dikelola oleh Pertamina terhitung dari tahun 2021 hingga 2041 berkat proposal Pertamina yang lebih bagus ketimbang Chevron.


Kala itu diungkapkan oleh wakil menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada kabinet kerja Jokowi Arcandra Tahar.


Pertamina pun menjanjikan beberapa hal yang menguntungkan negara dengan mekanisme bagi hasil migas gross split.


Negara akan mendapatkan porsi 48%, jadi setelah memenangkan Blok Rokan negara mendapatkan bonus tanda tangan 784 juta US Dollar atau sekitar 11,3 Triliun Rupiah.


3. Blok Mahakam


Blok Mahakam ini merupakan blok migas di Kalimantan Timur yang telah lama dikuasai oleh perusahaan Perancis PT. Total Eni.


Seperti bagaimana dilansir dari cnbcindonesia.com, Presiden Jokowi menyatakan bahwa Blok Mahakam kini telah diambil kembali oleh Indonesia setelah puluhan tahun dikuasai asing.


Presiden Jokowi pun menyerahkan kekuasaan Blok Mahakam ke Pertamina tepatnya tahun 2018 silam.


Sekedar informasi, Blok Mahakam adalah blok terbesar di negeri ini sudah cukup lama dikelola oleh perusahaan minyak asing sekitar 50 tahun lamanya.



PT. Pertamina menyiapkan dana investasi senilai 180 juta US Dollar atau setara 2,33 Triliun Rupiah untuk kebutuhan masa transisi pengambilalihan Blok Mahakam.


4. Newmont


Pengambilalihan aset negara dari tangan asing juga terjadi pada perusahaan tambang asal Amerika Serikat PT. Newmont.


Perusahaan yang melakukan kegiatan pertambangan tembaga di wilayah Nusa Tenggara Barat tersebut, berhasil diambil oleh perusahaan energi nasional Medco Energy.



Setelah itu, PT. Newmont Nusa Tenggara diubah namanya menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara.


Menurut Presiden Jokowi meskipun Newmont diakuisisi perusahaan swasta, tetap ada peran pemerintah dalam proses peralihan kepemilikan tersebut.(Red)

MediaMitraPol.com Designed by AzraMedia - MedanTemplateism.com Copyright © 2017

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.