News MediaMitraPol

Kasus Penjeweran dan Pengusiran Pelatih, Ketum KIB Tagor Aruan Angkat Bicara


MEDIAMITRAPOL.com,
SUMATERA UTARA - Tindakan dan Perlakuan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi yang menjewer serta mengusir pelatih atlet biliar, Coki Aritonang dinilai beberapa pengamat bahwa hal tersebut suatu tindakan arogansi dan tidak pantas sebagai Gubernur.


Perlakuan mantan Pangkostrad terhadap pelatih atlet itu pun membuat Ketua Umum Komite Independen Batak (KIB) Capt. Tagor Aruan kesal dan marah yang kemudian memutuskan untuk angkat bicara.



Menyikapi hal itu Tagor Aruan menyebutkan, sikap Edy Rahmayadi yang menghukum Coki Aritonang dengan menjewer dan mengusir dari pertemuan dinilai sangat bertentangan dengan motto yang selalu dikumandangkannya yakni 'Sumut Bermartabat'.


“Menurut catatan dari berbagai sumber, Sudah kesekian kalinya Edy Rahmayadi bertingkah emosial kepada masyarakat, dia memang Gubernur yang sangat arogan” ujar dia.



Ditambahkan Aruan, dengan kejadian tindakan tersebut, semua dapat melihat Edy Rahmayadi tidak pantas disebut seorang Pemimpin dan itu saya nilai suatu tindakan barbar di era modern ini. Saat ini ada UU perlindungan terhadap masyarakat. Bahkan guru sekolahpun dapat dipidana apabila menganiaya murid-muridnya secara sewenang-wenang.


Ini memberi contoh yang sangat buruk bagi masyarakat luas khususnya masyarakat Sumatera Utara.


Tindakan tersebut dapat disebut Penganiayaan, Penghinaan, Pelecehan, Penzoliman, Pembunuhan Karakter dan dapat menimbulkan trauma yang berkepanjangan karena dilakukan didepan publik. Hal ini sepantasnya diselesaikan secara hukum.


Apalagi hal tersebut dilakukan oleh seorang Gubernur hanya karena Pelatih tersebut tidak tepuk tangan. Bahkan sekalipun pelatih tersebut tertidur, tidak pantas diperlakukan seperti itu. Apalagi hal tersebut dilakukan oleh seorang Gubernur. Saya pribadi, malu memiliki seorang Gubernur yang seperti itu. Jika orang seperti dia diberi kekuasaan yang lebih tinggi, bisa-bisa menjadi seperti Pemimpin Korea Utara atau mungkin seperti Hitler.


"Siapapun bahkan Presiden sekalipun tidak berhak memperlakukan seseorang seperti itu", berang Aruan.


"Hal ini dikhawatirkan sangat berdampak negatif bagi atlit Billiar, para officer, pendukung, simpatisan, fans, orangtua dan masyarakat luas. Padhal pada PON 20 di Papua yang baru-baru ini, cabang olah raga ini, cukup membanggakan karena berhasil menyumbangkan 15 mendali", tambahnya.


"Inilah yang yang disebut Orangtua yang tidak mengenal anak-anaknya", Pungkasnya. (Red)

MediaMitraPol.com Designed by AzraMedia - MedanTemplateism.com Copyright © 2017

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.